Dari Kunjungan Ke Kementerian Koperasi RI: Cetak Biru Transformasi Ekonomi Papua Barat Daya
Jakarta (OikoNews) – Menjadi momen penting bagi pembangunan ekonomi Papua Barat Daya. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi setempat, Dr. Sellvyana Sangkek, SE., M.Si, melakukan dialog dan audensi resmi dengan Kementerian Koperasi RI di Jakarta, Selasa (7/7/2026). Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan rencana strategis penguatan kelembagaan koperasi khususnya yang bukan berstatus Koperasi Desa Merah Putih, serta pemberdayaan ekonomi berbasis Orang Asli Papua (OAP).
Ia menjelaskan Papua Barat Daya sangat kaya akan sumber daya alam: hasil laut, hutan, kelapa, sagu, kakao, kopi, dan berbagai komoditas unggulan lain. Namun, kekayaan tersebut belum sepenuhnya dirasakan dampaknya oleh masyarakat, khususnya warga asli daerah ini. Kondisi ini menjadi dasar disusunnya cetak biru transformasi ekonomi yang ditawarkan pemerintah provinsi.
“Kami menawarkan cetak biru lengkap transformasi ekonomi daerah melalui penguatan dan pengembangan koperasi produktif berbasis Orang Asli Papua,” tegas Dr. Sellvyana.
Dalam pandangannya, koperasi tidak sekadar lembaga usaha, melainkan mesin utama pertumbuhan ekonomi baru. Tujuannya jelas: mengelola produksi secara teratur, menciptakan nilai tambah hasil bumi dan laut, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan taraf hidup masyarakat secara merata.
Program besar ini memiliki satu visi utama: mewujudkan koperasi yang modern, produktif, dan mandiri sebagai penggerak roda ekonomi daerah. Strategi yang disusun bersifat komprehensif, mencakup pembenahan kelembagaan, pembangunan infrastruktur dan logistik, penerapan teknologi digital, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia. Seluruh rencana pun sudah dilengkapi hitungan kebutuhan investasi serta gambaran dampak ekonomi dan sosial yang terukur.
Dr. Sellvyana menyoroti adanya paradoks pembangunan di wilayahnya: kaya alam namun angka kemiskinan masih cukup tinggi. Hal ini membuktikan kekayaan alam saja belum cukup tanpa sistem ekonomi yang kuat dan mampu menjembatani produsen dengan pasar yang pasti. Oleh sebab itu, pengembangan disesuaikan sepenuhnya dengan potensi unggulan masing-masing kabupaten, entah itu perikanan, pertanian, atau perkebunan agar pembangunan lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
Langkah ini juga menjadi jawaban atas berbagai kendala yang selama ini dialami koperasi: kelembagaan lemah, akses modal terbatas, kemampuan manajemen rendah, serta sulit menjangkau pasar luas. Transformasi bukan sekadar menambah jumlah koperasi baru, melainkan membangun lembaga yang sehat, profesional, dan benar-benar memberi manfaat nyata bagi anggotanya.
Prinsip utamanya adalah membangun ekosistem terintegrasi. Koperasi tidak boleh berjalan sendiri, melainkan menjadi penghubung antara petani, nelayan, UMKM, industri pengolahan, lembaga keuangan, perguruan tinggi, pemerintah, hingga pasar yang lebih luas. Dengan demikian, koperasi berubah menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat, bukan sekadar tempat simpan pinjam.
👉Enam Pilar Utama Pembangunan
Seluruh strategi dibangun di atas enam pilar utama yang saling melengkapi:
- Transformasi Kelembagaan: Membangun tata kelola profesional, kompeten, dan penuh tanggung jawab.
- Kemitraan Usaha: Menciptakan pola kerja sama strategis demi kepastian pasar, akses pembiayaan, dan kemandirian usaha.
- Penguatan Infrastruktur & Logistik: Mengatasi biaya ekonomi tinggi lewat pembangunan fasilitas penyimpanan, pengolahan, dan distribusi yang disesuaikan kondisi wilayah.
- Pencetakan Pemimpin Ekonomi: Program kaderisasi khusus OAP guna melahirkan pengurus tangguh, berwawasan wirausaha, dan terampil mengelola usaha.
- Transformasi Digital: Menerapkan teknologi dalam administrasi, keuangan, hingga pemasaran agar lebih transparan, efisien, dan terpercaya.
👉Investasi dan Target Hingga Tahun 2029
Rencana besar ini membutuhkan investasi sekitar Rp1,6 triliun, yang akan dibiayai secara kolaboratif dari pemerintah pusat, daerah, Dana Otonomi Khusus, perbankan, BUMN, serta mitra pembangunan lain. Sasaran utama hingga tahun 2029 bukan sekadar jumlah koperasi bertambah, melainkan peningkatan pendapatan masyarakat, perluasan lapangan kerja, serta kokohnya ekonomi lokal yang berakar pada budaya dan potensi daerah.
Menutup penyampaiannya, Dr. Sellvyanan menegaskan makna sejati koperasi:
“Koperasi adalah wadah nyata semangat gotong royong, sarana pemerataan kesejahteraan, serta jalan utama menuju kemandirian ekonomi masyarakat.”
Ia pun mengajak seluruh pihak terkait bersatu padu mendukung cetak biru ini. Dengan kerja sama yang kuat, Papua Barat Daya diharapkan dapat menjadi contoh keberhasilan pembangunan ekonomi nasional yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.(*)
Editor: Yosep Bifel
Apa reaksi kamu?