Seputar PBD

Papua Food Festival Hidupkan Kembali Kuliner Leluhur, Poksus DPRK Sorong Dorong Payung Hukum Pelestarian Budaya

Yosep Bifel

21 Juni 2026, 11:24 WIB

6 min baca
Papua Food Festival Hidupkan Kembali Kuliner Leluhur, Poksus DPRK  Sorong Dorong Payung Hukum Pelestarian Budaya
Artikel Multi-Halaman

Sorong,(OikoNews)– Yayasan Bengkel Belajar Antar Rakyat Papua atau yang lebih dikenal dengan sebutan Belantara Papua, bersama sejumlah mitra yang memiliki kepedulian mendalam terhadap pelestarian lingkungan, hutan, serta kekayaan budaya lokal, menggandeng generasi muda Suku Malamoi di Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, menggelar acara bertajuk Papua Food Festival. Kegiatan yang berlangsung selama satu pekan ini dipusatkan di lingkungan kantor Yayasan Belantara Papua, dimulai pada 16 Juni dan resmi ditutup pada Sabtu, 20 Juni 2026.

 

Kegiatan penutupan dipimpin oleh Sekretaris Kelompok Khusus (Poksus) Otonomi Khusus, DPR Kota Sorong, Yonadap Trogea, SE, yang hadir mewakili Wakil Ketua III DPR Kota Sorong, Robert Malaseme dari Fraksi Otonomi Khusus (Otsus) Papua. Rangkaian acara ini menjadi ruang istimewa untuk menghidupkan kembali warisan kuliner yang mulai terlupakan, sekaligus memperkuat jati diri masyarakat adat di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan gaya hidup masa kini.

 

Ketua Panitia Papua Food Festival Sorong, Salsabila Adriana, menjelaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini memiliki tujuan mulia, yaitu membangkitkan kembali beragam jenis hidangan dan kuliner khas Papua yang selama ini kurang populer, bahkan nyaris punah dari peredaran sehari-hari masyarakat.

 

“Banyak makanan asli kita yang perlahan menghilang dari meja makan dan ingatan generasi muda. Misalnya pemanfaatan buah merah, hingga olahan ulat sagu yang memiliki nilai gizi tinggi namun jarang lagi ditemukan. Melalui festival ini, kami ingin mengangkat kembali ke permukaan sekaligus memperkenalkan kembali kepada generasi muda berbagai hidangan tradisional seperti papeda, kasbi, petatas, dan berbagai hasil alam lainnya yang diolah dengan cara-cara turun-temurun dari nenek moyang,” ungkap Salsabila.

 

Ia menambahkan, kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang erat antara Yayasan Belantara Papua dengan berbagai pihak yang memiliki kepedulian mendalam terhadap kelestarian hutan, lingkungan hidup, serta kearifan budaya lokal. Tidak hanya itu, festival ini juga mendapatkan dukungan penuh dari berbagai institusi dan sponsor, antara lain Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, DANAINDONESIANA, LPDP, Bank Tabungan Negara (BTN), The PURNOMO YUSGIANTORO, Bank BNI, Bank BCA, TelusuRI, serta PIOPP FLEDGE.

 

Sementara itu, Direktur Yayasan Belantara Papua, Markus Wafo, menjelaskan secara mendalam mengenai latar belakang berdirinya lembaga ini serta peran strategisnya dalam kehidupan masyarakat. Menurutnya, nama “Belantara Papua” memiliki makna filosofis sebagai “bengkel belajar antar rakyat Papua”, tempat berkumpul, berbagi pengalaman, dan saling mengembangkan pengetahuan bersama.

 

“Belantara didirikan sebagai ruang belajar bersama bagi kita semua. Di sini kami belajar melestarikan budaya melalui berbagai keterampilan: belajar mengukir, melukis, menganyam, membuat aksesoris dan kerajinan tangan, hingga mempelajari seni menyanyi dan memainkan alat musik tradisional. Tujuan utamanya jelas, yakni menjaga agar budaya hidup Orang Asli Papua tetap terjaga dan tidak punah ditelan zaman,” jelas Markus.

 

Ia melanjutkan, lembaga ini telah berdiri sejak tahun 2005 dan selama lebih dari dua dekade keberadaannya telah memberikan dampak nyata bagi kemajuan masyarakat lokal. Banyak warga yang pernah mengikuti pembinaan dan pelatihan di lingkungan Belantara kini telah mendirikan dan mengelola berbagai sanggar seni budaya yang tersebar di wilayah Sorong, menjadi bukti nyata keberhasilan program pelestarian yang dijalankan.

 

Dalam festival yang berlangsung selama tujuh hari tersebut, pengunjung dapat menyaksikan secara langsung berbagai proses tradisional dalam mengolah bahan pangan khas. Mulai dari cara memasak papeda dengan kuah ikan kuning yang kental dan gurih, teknik memanggang bahan makanan dalam bambu yang menjaga cita rasa alami, meracik minuman sehat dan kaya manfaat dari buah merah, hingga cara memasak dengan sistem bakar batu yang menjadi simbol kebersamaan, persaudaraan, serta rasa syukur masyarakat adat kepada alam.

 

“Harapan kami, cara-cara memasak dan mengolah makanan ala tradisional Papua ini tetap hidup, terus diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan tidak hilang begitu saja seiring perkembangan zaman. Nilai yang terkandung di dalamnya bukan hanya sekadar rasa, melainkan juga cara pandang hidup yang selaras dengan alam, menjaga keseimbangan lingkungan, serta menjunjung tinggi kearifan lokal,” ujar Markus.

 

Untuk memastikan kelestarian budaya ini terjamin dalam jangka panjang, Markus Wafo menyampaikan harapan agar Pemerintah Kota Sorong bersama DPRD setempat dapat merumuskan dan menerbitkan peraturan daerah (Perda). Peraturan tersebut diharapkan dapat menjadi payung hukum yang melindungi, mengatur, dan mendorong pengembangan budaya asli Papua, termasuk kekayaan kulinernya, agar tetap lestari dan menjadi kebanggaan bersama di masa mendatang.

 

Merespons harapan tersebut, Sekretaris Kelompok Khusus Otsus DPR Kota Sorong, Yonadap Trogea, SE, menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya terhadap penyelenggaraan Papua Food Festival Sorong yang digagas Belantara Papua. Menurutnya, kegiatan ini sangat positif dan strategis karena turut mengangkat serta membangkitkan kembali budaya hidup Orang Asli Papua di wilayah Provinsi Papua Barat Daya.

 

“Kami delapan orang yang duduk di DPR Kota Sorong dari jalur pengangkatan Otonomi Khusus mengapresiasi teman-teman, khususnya dari Belantara Papua, yang telah menggagas kegiatan luar biasa ini. Kegiatan semacam ini pasti akan kami dukung penuh, apalagi jika bersentuhan langsung dengan kepentingan dan jati diri Orang Asli Papua,” ujar Yonadap Trogea mengawali sambutannya pada penutupan Papua Food Festival, Sabtu sore (20/6/2026).

 

Ia menegaskan, pembelaan terhadap budaya serta hak hidup Orang Asli Papua di Kota Sorong menjadi fokus utama dan konsentrasi tugas kedewanan bagi seluruh anggota Fraksi Kelompok Khusus Otsus DPR Kota Sorong. Oleh karena itu, ia membuka ruang seluas-luasnya dan mengajak kepada semua kelompok atau lembaga masyarakat yang bergerak untuk kepentingan Orang Asli Papua di Kota Sorong agar dapat berkolaborasi dan bekerja sama dengan pihaknya.

 

“Kami hadir di lembaga legislatif ini untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat Orang Asli Papua di Kota Sorong. Untuk itu, segala aspirasi yang menyangkut kepentingan Orang Asli Papua silahkan disampaikan kepada kami yang delapan orang ini. Wadah perjuangan untuk Orang Asli Papua sudah ada sekarang; dulunya belum ada, yang ada hanya wakil dari partai politik melalui pemilu. Namun mulai periode ini, sudah tersedia kursi legislatif melalui mekanisme pengangkatan Otonomi Khusus,” tegasnya.

 

Ket Foto: pameran foto berbagai macam olahan makanan lokal Papua 

 

Lebih lanjut, Yonadap Trogea menyampaikan bahwa kehadiran Fraksi Kelompok Khusus Otsus merupakan buah perjuangan panjang dan menjadi salah satu bentuk perhatian serius terhadap nasib Orang Asli Papua. Bahkan, saat ini DPR Kota Sorong melalui Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) tengah merancang Perda tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat.

 

Ket Foto: kegiatan penutupan Papua Food Festival 

Menyikapi harapan Belantara Papua agar budaya asli termasuk kuliner tradisional mendapatkan perlindungan hukum, Yonadap menegaskan bahwa Fraksi Kelompok Khusus Otsus akan segera menindaklanjutinya dan menyampaikan usulan tersebut kepada Walikota Sorong. Namun, ia meminta dukungan dan kerja sama dari pihak Belantara Papua untuk melengkapi persyaratan administrasi sebagai dasar penyusunan kebijakan.

 

“Bantu kami, buatkan naskah akademik yang lengkap dan terperinci agar itu dapat menjadi acuan yang kuat bagi kami dalam menyusun rancangan peraturan daerah yang berkualitas dan bermanfaat nyata bagi masyarakat,” pungkas Yonadap Trogea mengakhiri sambutannya.(*)

Editor:Yosep Bifel

Apa reaksi kamu?

Komentar (0)

Sign in untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami.