Seputar PBD

Merajut Budaya, Menganyam Ekonomi: Pelatihan Tenun Dorong 55 Perajin Lokal Kota Sorong Naik Kelas

Oiko_News

23 Juli 2026, 14:42 WIB

5 min baca
Merajut Budaya, Menganyam Ekonomi: Pelatihan Tenun Dorong 55 Perajin Lokal Kota Sorong Naik Kelas
Artikel Multi-Halaman

Sorong, (OikoNews) – Pemerintah Kota Sorong semakin serius mengangkat kerajinan tenun lokal bukan sekadar sebagai simbol warisan budaya, melainkan sebagai kekuatan ekonomi baru yang menopang kesejahteraan masyarakat. Sebanyak 55 perajin pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Kota Sorong mengikuti pelatihan pengembangan usaha industri kecil melalui kegiatan merajut dan menenun yang digelar Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Sorong, Kamis (23/7/2026).

 

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini menghadirkan dua narasumber ahli dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Para peserta dikelompokkan secara teratur untuk memperkuat keterampilan teknis, kreativitas, serta kemampuan mengembangkan produk tenun yang tetap mempertahankan nilai budaya sekaligus memiliki daya saing dan nilai jual tinggi.

 

Ket Foto: Walikota membuka kegiatan dengan menabuh tifa dan menyematkan kartu tanda peserta kepada perwakilan peserta pelatihan. (OikoNews/Yosep Bifel)

Wali Kota Sorong, Septinus Lobat, SH., M.P.A., menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian strategis dari upaya pemerintah mempersiapkan sumber daya manusia, khususnya perempuan Orang Asli Papua (OAP), agar mampu mengolah bahan-bahan alam setempat menjadi karya kreatif yang bernilai ekonomi.

 

“Pemerintah Kota Sorong terus mempersiapkan sumber daya manusia, terutama ibu-ibu Orang Asli Papua, supaya mereka bisa menjadi pengrajin yang menghasilkan karya indah dan produktif, sekaligus menghasilkan uang dari bahan-bahan alam yang ada di Papua,” ujar Lobat.

 

Ia mengakui Papua memiliki kekayaan budaya yang sangat tinggi, termasuk berbagai bentuk tenun dan kerajinan tradisional dengan motif serta karakter khas masing-masing daerah. Namun, kekayaan tersebut tidak boleh berhenti hanya sebagai identitas semata. Pemerintah wajib mendorong agar produk budaya lokal mampu menjadi tulang punggung penguatan ekonomi masyarakat.

 

“Kita punya tenunan yang memiliki nilai budaya sangat tinggi. Kita harus menghargai nilai-nilai lokal kita. Tetapi pada saat yang sama, karya-karya itu juga harus memiliki nilai ekonomi,” tegasnya.

Sesi foto bersama walikota, ketua Dekranasda, Anggota DPRK Fraksi Otsus, kedua narasumber dan para peserta pelatihan.

Wali Kota bahkan mendorong penggunaan produk tenun lokal di lingkungan pemerintahan maupun masyarakat luas. Ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Sorong dinilai menjadi pasar potensial yang sangat besar bagi para pengrajin.

 

“Kalau produksinya banyak, kita bisa dorong untuk digunakan. Bahkan kalau perlu, pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Sorong menggunakan tenun lokal pada hari tertentu. Yang penting produknya tersedia dan kualitasnya baik,” katanya.

 

Langkah ini bukan sekadar soal pakaian, melainkan upaya nyata membangun pasar bagi perajin sekaligus memperkuat identitas budaya Papua di tengah kehidupan bernegara.

 

Lobat mengingatkan para perajin agar tidak merasa malu atau rendah diri saat memasarkan hasil karya mereka. “Jangan pernah malu memasarkan apa yang menjadi hasil karya kita. Jati diri kita ada di situ,” ucapnya.

 

Ia juga mengajak peserta tidak sekadar meniru produk daerah lain, melainkan melakukan inovasi dengan prinsip ATM: Amati, Tiru, Modifikasi.

 

“Apa yang baik dari daerah lain bisa kita tiru, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi lokal yang ada di sini. Jangan sampai kita kehilangan ciri khas dan identitas budaya Papua,” jelasnya.

 

Harapannya, pelatihan ini melahirkan perajin-perajin andal yang mampu membawa produk tenun Kota Sorong menembus pasar yang lebih luas.

 

Ketua Dekranasda Kota Sorong, Jemima Elisabeth Windesi Lobat, S.K.M., M.A.P., menegaskan bahwa kerajinan tenun tidak dapat dipandang sekadar rangkaian benang yang membentuk kain.

 

“Di balik setiap motif terdapat cerita. Di balik setiap warna terdapat identitas budaya, sementara di balik setiap produk terdapat harapan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Ketika kita berbicara tentang tenun, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang budaya, identitas, kreativitas dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

 

Ketua Dekranasda Kota Sorong, Jemima Elisabeth Windesi Lobat saat diwawancarai wartawan.

Ia menekankan kekayaan motif dan karya kerajinan Papua harus dikembangkan agar tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi memberikan manfaat nyata bagi perekonomian. Dekranasda memiliki peran penting membina perajin agar meningkatkan kualitas produk, memperluas akses pasar, dan beradaptasi dengan zaman tanpa meninggalkan nilai budaya.

 

“Jangan takut mencoba desain baru. Jangan ragu memanfaatkan teknologi digital untuk memasarkan produk. Karya-karya kita jangan hanya dikenal di Kota Sorong, tetapi harus bisa sampai tingkat nasional bahkan internasional,” ajaknya.

 

Jemima juga menyoroti peran sentral perempuan dalam ekonomi kreatif berbasis budaya. “Ketika perempuan semakin kuat, keluarga akan semakin kuat. Ketika keluarga kuat, masyarakat akan semakin sejahtera, dan kondisi tersebut pada akhirnya akan berkontribusi terhadap kemajuan pembangunan Kota Sorong,” ujarnya.

 

Ia menambahkan: “Jangan pernah merasa kecil. Jangan pernah malu menjadi perajin. Justru melalui karya tangan kita, budaya tetap hidup, ekonomi keluarga tumbuh, dan nama Kota Sorong semakin dikenal.”

 

Walikota menyerahkan bantuan peralatan tenun kepada peserta.

Dalam kegiatan ini, seluruh 55 peserta tidak hanya mendapatkan ilmu dan keterampilan, tetapi juga dibekali dengan peralatan tenun lengkap. Hal ini dilakukan agar keterampilan yang diperoleh tidak berhenti setelah pelatihan selesai, melainkan dapat diteruskan di lingkungan kelompok usaha maupun rumah masing-masing.

 

Pihak penyelenggara dan pemerintah menjamin adanya dukungan berkelanjutan. Hasil karya dapat dipasarkan secara mandiri maupun melalui platform digital, dengan dukungan fasilitasi dari Dinas Perindustrian dan Dekranasda Kota Sorong.

 

Ke depannya, pengembangan tidak hanya difokuskan pada kain tenun, tetapi diperluas ke berbagai produk turunan seperti tas, hiasan dinding, perlengkapan rumah tangga, dan kerajinan lainnya. Pemerintah juga berkomitmen terus mendampingi kelompok perajin agar mampu menciptakan motif baru, meningkatkan kualitas, dan membuka akses pasar yang lebih luas.

 

Bagi pemerintah dan para penggerak kerajinan lokal, benang-benang yang dirajut saat ini bukan sekadar membentuk kain. Di dalamnya terdapat upaya merajut kembali identitas budaya, membangun kemandirian ekonomi, serta menganyam masa depan yang lebih cerah bagi masyarakat Kota Sorong. Dengan langkah ini, tenun Papua kini siap melangkah dari sekadar warisan leluhur menjadi mesin penggerak ekonomi kreatif yang kokoh dan berkelanjutan.(*)

Editor : Yosep Bifel

Apa reaksi kamu?

Komentar (0)

Sign in untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami.