Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Barat Daya Workshop Penguatan Kapasitas Kepala Sekolah SLB
Sorong, (OikoNews)– Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya menggelar kegiatan Workshop Penguatan Kapasitas Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB). Kegiatan berlangsung di Rylich Panorama Hotel Sorong pada Kamis (30/7/2026).
Kegiatan ini menjadi langkah nyata pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Akademi Komunitas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Barat Daya, Erdia Msiren, S.Pd., M.Si, dalam laporannya menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan program pelatihan dan peningkatan kompetensi yang dirancang khusus untuk memperbaiki kemampuan manajerial, supervisi akademik, serta kepemimpinan transformasional para kepala sekolah. Program ini pada akhirnya bertujuan meningkatkan mutu pembelajaran di satuan pendidikan dasar.

Ket Foto: Laporan Ketua Panitia Pelaksana kegiatan, Erdia Msiren, S.Pd., M.Si. (OikoNews/Yosep Bifel)
Kegiatan ini dilandasi oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang standar kepala sekolah.
" Ada empat standar kompetensi utama kepala sekolah, yaitu kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, serta supervisi akademik,"ujarnya.
Secara rinci, kata Erdia Msiren, tujuan penyelenggaraan workshop ini adalah: pertama, meningkatkan rasa percaya diri kepala sekolah dalam memimpin lembaga; kedua, mengembangkan mutu pembelajaran peserta didik secara bertahap; ketiga, memperkuat kemampuan pengembangan kurikulum dan pembelajaran; keempat, membangun jaringan serta berbagi praktik terbaik antar satuan pendidikan; kelima, mendukung peningkatan mutu pendidikan secara menyeluruh; serta keenam, mendorong inovasi dan kemampuan adaptasi kepala sekolah terhadap perkembangan pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Barat Daya, Adolof Kambuaya saat membuka kegiatan workshop dengan menabuh tifa. (FOTO: OikoNews/Yosep Bifel)
Kegiatan ini diikuti sebanyak 50 orang peserta dari SLB di Kota Sorong, Kabupaten Sorong dan Kabupaten Raja Ampat. Dengan menghadirkan narasumber kompeten, yaitu Dr. Nur Salim dari Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong, serta Ferdinand Fransiskus, S.Pd., M.Si dari Balai Pendidikan Papua Barat dan Papua Barat Daya.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya, Adolof Kambuaya, SH., M.Si, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa Dinas Pendidikan senantiasa menyiapkan berbagai program peningkatan kapasitas agar para pendidik dan pemimpin satuan pendidikan mampu mentransfer ilmu dan kemampuan terbaiknya kepada peserta didik, khususnya pada sekolah luar biasa.
“Penguatan yang kami berikan hari ini sangatlah krusial, karena seorang kepala sekolah memikul tiga tanggung jawab besar yang menjadi penentu maju mundurnya sekolah,” tegas Adolof Kambuaya.
Pertama, kepala sekolah bertanggung jawab penuh terhadap seluruh sarana dan prasarana yang ada di lingkungan sekolah.
"Kepala sekolah harus mengetahui secara pasti aset apa saja yang dimiliki, mana yang rusak berat, mana yang rusak ringan, mana yang belum terpakai, serta fasilitas apa yang masih perlu ditambah dan disiapkan. Kondisi gedung, bangku, kursi, papan tulis, hingga kelengkapan ruangan sangat mempengaruhi kenyamanan dan kelancaran proses belajar mengajar,"ungkap Adolof.
Kedua, kepala sekolah wajib mengelola sumber daya manusia dengan baik. Mulai dari pendistribusian tugas yang merata, pengawasan kinerja, hingga memperjuangkan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan. “Jangan sampai hanya satu atau dua orang yang terus-menerus dikirim pelatihan sementara yang lain tidak. Tugas harus disebar dengan adil agar pengetahuan merata, dan dampaknya akan langsung dirasakan oleh anak didik,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar kepala sekolah mampu menjaga hubungan harmonis, memotivasi guru hadir tepat waktu, dan menyelesaikan jam pembelajaran sesuai ketentuan.
Ketiga, berkaitan dengan pengelolaan keuangan. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan alokasi lainnya harus dikelola secara transparan, tepat sasaran, dan untuk kepentingan kemajuan pendidikan. “Jangan sampai ada anggaran yang sudah masuk namun tidak ada aktivitas nyata yang terlihat. Uang itu harus bergerak menjadi perbaikan layanan, sarana, maupun kegiatan yang mendukung sekolah berkembang,” tambahnya.
Adolof Kambuaya menegaskan bahwa ketiga hal tersebut; sarana prasarana, sumber daya manusia, dan pembiayaan, merupakan kunci utama yang menjadi wewenang sekaligus tanggung jawab kepala sekolah.
“Fungsi kepala sekolah mungkin berbeda dengan jabatan lain, namun kemampuan mengatur proses belajar mengajar dan memanfaatkan segala potensi yang ada di tangan Andalah yang menentukan apakah sekolah ini akan maju atau tidak,” pungkas Adolof Kambuaya.
Workshop ini diharapkan mampu melahirkan kepala sekolah SLB yang tidak hanya cakap secara administratif, tetapi juga memiliki kepemimpinan tangguh, mampu berinovasi, serta senantiasa berkomitmen memberikan layanan pendidikan terbaik bagi seluruh anak bangsa tanpa terkecuali.(*)
Editor : Yosep Bifel
Apa reaksi kamu?