Yayasan 3M Diskusi Menoken bersama Lembaga Masyarakat Adat dan Perguruan Tinggi: Target 300 BUMMA akan Dibentuk
Sorong, (OikoNews)- Masyarakat adat dari berbagai suku di Tanah Papua mengikuti diskusi publik /Menoken yang difasilitasi oleh Yayasan Menoken, Membumi, Membumma (3M) Papua, sebuah yayasan dan komunitas yang berfokus pada gerakan sosial-budaya berbasis filosofi Noken di Papua. Yayasan ini bertujuan memperkuat kedaulatan ekonomi masyarakat adat melalui pendekatan budaya dan berkelanjutan.
Kegiatan ini bertempat di Rumah EcoNusa Sorong, Jalan Kaliele , Kota Sorong, Papua Barat Daya pada, Sabtu (9/5/2026).
Direktur Yayasan Menoken Membumi Membumma (3M), Pieter Roky Aloysius menjelaskan, forum diskusi tersebut diikuti lembaga perguruan tinggi dan beberapa lembaga masyarakat adat dan suku di Tanah Papua, antara lain suku Fermanggem (Kerom),suku Kanum (Merauke ) dan suku Yei (Merauke) serta dari wilayah adat Domberai yaitu Suku Knasaimos -Seremuk (Sorong Selatan) dan Suku Mare (Maybrat).
Menurut Roky, tujuan dari kegiatan ini adalah mengorkestrasi- membangun BUMMA yaitu Badan Usaha Milik Masyarakat Adat. BUMMA ini dikhususkan untuk mengelola wilayah adat suku.

Ket Foto: Direktur Yayasan 3M Papua, Pieter Roky Aloysius
Dimana, kata Roky, satu BUMMA sudah berjalan yaitu BUMMA Namblong (Badan Usaha Milik Masyarakat Adat Namblong) yang didirikan oleh masyarakat adat suku Namblong di Kabupaten Jayapura, Papua, untuk mengelola dan melindungi wilayah adat mereka.
Angelius Mangatasi Nababan dari Mitra BUMMA menuturkan tentang BUMMA Namblong di Kabupaten Jayapura. “BUMMA adalah badan usaha milik masyarakat adat yang sepenuhnya dikelola oleh suku-suku. Dengan wilayah lebih dari 52 ribu hektar, kami berhasil menjaga hutan tetap utuh dengan tingkat deforestasi nol persen. Ekonomi adat tetap berputar, menghasilkan 5,5 miliar rupiah per tahun, dengan biaya pengelolaan yang relatif rendah,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa prinsip Menoken, Membumi, Membumma menjadi dasar gerakan ini: merajut solidaritas, memulihkan tanah, dan membangun kedaulatan ekonomi adat.
BUMMA Nanblong ini menjadi role model bagi pembentukan BUMMA di wilayah adat lainnya di Tanah Papua.
"Ada banyak tahapan yang harus dilakukan dalam pembentukan BUMMA. Ada peran-peran yang dilakukan oleh mitra BUMMA dan kami dari Yayasan 3M mengharapkan dukungan lain yakni pada tahap awal ini adalah pengorganisasian masyarakat adat, suku, sosialisasi tentang mengapa pentingnya Bumma. Kegiatan ini dilakukan di setiap suku atau Menoken," terang Roky.
Lebih lanjut ia menjelaskan tentang Menoken.
Menoken atau noken berbentuk rajutan kulit kayu. Noken melambangkan kearifan lokal, hubungan manusia dengan alam, serta kedewasaan perempuan Papua.Noken mewakili identitas budaya, kerja keras, dan nilai ekonomi yang diwariskan turun-temurun. Menurut Roky, Nilai-nilai atau filosofi noken inilah yang diaktualisasikan dalam kegiatan Yayasan 3M.
"Nilai-nilai yang kami aktualisasikan adalah, transparansi, keterbukaan, kelenturan atau fleksibel , dan nilai kasih kerahiman. Bagi kami nilai-nilai ini sangat identik dan relevan dengan suku-suku kita di Papua,"jelas Roky terkait filosofi Menoken.
Menurutnya, tujuan akhir dari Menoken tidak harus membentuk BUMMA tetapi ada pilihan-pilihan bagi dari setiap suku untuk membentuk BUMMA atau tidak.
"Dalam Menoken ada pilihan-pilihan. Nah, pilihannya mau bentuk Bumma atau tidak tergantung kepada suku-suku itu,"ucap Roky.
Kegiatan mengorkestrasi ,merupakan kegiatan yang pertama kali dilakukan oleh Yayasan 3M bersama Mitra BUMMA, namun diakui bahwa di tingkat suku ada lembaga-lembaga adat yang sudah melakukannya.
"Kita berharap ada peran-peran yang bisa dilakukan di masing-masing lembaga adat, supaya pekerjaan besar ini akan menjadi mudah," ujarnya.
Ditempat yang sama, Ambrosius Ruwindrijarto selaku Chief Executive Officer (CEO) Mitra BUMMA menyampaikan bahwa, kegiatan ini adalah mengorkestrasi organisasi seperti organisasi perguruan tinggi , organisasi advokasi, organisasi yang mengorganisir masyarakat adat, organisasi lingkungan hidup dan para donatur atau investor.
"Nah, kegiatan ini mengorkestrasi semua organisasi tersebut agar secara terpadu, bersinergi mendukung pembangunan ekonomi adat melalui BUMMA," jelas Ambros.

Ket Foto: CEO Mitra BUMMA, Ambrosius Ruwindrijarto
Ia menegaskan bahwa sesuai tuntutan riil di lapangan, maka ditargetkan 300 BUMMA akan dibentuk oleh 300 suku di seluruh wilayah adat di Tanah Papua.
" Ini merupakan tantangan kondisi riil yang harus dijawab," ucapnya.
Karena itu menurut Ambros, semua pihak terkait harus mengorkestrasi diri menuju pembangunan 300 BUMMA oleh 300 suku tersebut untuk menjaga dan mengelola seluruh wilayah adat di Tanah Papua.
Melalui kegiatan mengorkestrasi yang dilaksanakan di Kota Sorong ini, Ambros berharap lembaga -lembaga yang terlibat khususnya lembaga pendidikan agar mengambil peran tanggung jawabnya untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) di Masyarakat Adat di tanah Papua. Yaitu SDM yang profesional, punya keahlian untuk mengelola ekonomi adat, untuk mengelola BUMMA yang semua ini tak lain adalah harta adat masyarakat Papua.
Menanggapi pertemuan Menoken yang digelar Yayasan 3M , Wakil Ketua Dewan Persekutuan Masyarakat Adat (DPMA) Knasaimos, Seremuk, Saifi Kabupaten Sorong Selatan, Arkilaus Kladit menyampaikan bahwa kehadiran DPMA Knasaimos pada kegiatan mengorkestrasi ini atas hubungan kemitraan yang sudah terjalin selama ini.

Ket Foto: Wakil Ketua DPMA Knasaimos Sorong Selatan, Arkilaus Kladit
Ia mengakui Dewan Adat Knasaimos telah menjadi Mitra BUMMA . "Kami hadir di sini dan siap mengkonsolidasi masyarakat adat untuk bagaimana menselaraskan tujuan bersama menghadirkan BUMMA di wilayah adat kami," ujarnya.
Arki menilai pertemuan ini sangat penting untuk membangun sinergi dengan lembaga-lembaga adat atau lembaga perguruan tinggi yang peduli terhadap masyarakat adat untuk menjaga hutan dan kekayaan alam di masing-masing wilayah adat.(*)
Pewarta: Yosep Bifel
Apa reaksi kamu?