Keluarga Korban Penyerangan OTK di Tambrauw Bantah Keras Tudingan TPNPB-OPM
Sorong, (OikoNews)-Keluarga Tenaga kesehatan (Nakes) yang meninggal dunia pada insiden penyerangan oleh orang tidak dikenal (OTK) di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya, membantah keras tudingan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) sayap dari Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang mengklaim dua orang Nakes yang mereka bunuh adalah oknum Intelijen aparat keamanan Republik Indonesia.
Insiden penyerangan terjadi di Kampung Jokbu, Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw pada Senin (16/3/2026) sekitar pukul 11.37 WIT. Empat orang menjadi korban penyerangan. Dua meninggal dunia yakni Yeremia Lobo (37 thn) dan Yohanes Edwin Bido (24 thn). Sedangkan dua orang lainnya masih hidup karena berhasil melarikan diri dan berlindung di Pos TNI Bamusbama.
Markus Sampebade, paman almarhum Yeremia Lobo, kepada wartawan di Sorong, Selasa (17/3), membantah keras tudingan kelompok pelaku (TPNPB) yang menyatakan korban merupakan Aparat (intel) keamanan Republik Indonesia.
"Kami keluarga membantah keras informasi yang beredar yang menyatakan korban adalah aparat keamanan. Kami tegaskan itu informasi sesat. Korban Yeremia Lobo merupakan tenaga medis," ujar Markus.
"Anak kami Yeremia kerja di Puskesmas Tambrauw. Mereka tenaga medis," tambah Markus dengan nada tegas.
Ia pun mendesak pemerintah dan aparat keamanan meningkatkan perlindungan bagi warga sipil di Kabupaten Tambrauw. Menurutnya, insiden kekerasan terhadap masyarakat sipil sudah terjadi berulang kali.
Sementara korban meninggal atas nama Yohanes Edwin Bido berasal dari Ende-Flores Nusa Tenggara Timur (NTT). Alm Edwin merupakan warga sipil. Ia baru baru datang ke Papua Barat Daya pada Januari 2026. Alm Edwin ikut salah satu keluarganya ke Tambrauw dan berada bersama Nakes di lingkungan kesehatan untuk mencari peluang kerja.
Reinhard salah satu keluarga dekat korban menceritakan, Edwin baru datang merantau di Sorong Papua Barat Daya pada bulan Januari 2026.
"Anak kami datang ke sini untuk mencari pekerjaan," kata Reinhard di Sorong, Selasa (17/3).
Dengan demikian dapat dipastikan tudingan TPNPB bahwa korban yang terbunuh merupakan aparat keamanan Indonesia, adalah salah besar. Itu tudingan sesat.
Sebelumnya, dilansir media ini, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) sayap dari Organisasi Papua Merdeka (OPM), Komando Daerah Pertahanan (Kodap) 33 RuMana Tambrauw, klaim telah melakukan penyerangan terhadap empat orang Tenaga Kesehatan (Nakes) hingga menewaskan dua orang di wilayah Distrik Bamusma, Kabupaten Tambrauw pada Senin, 16 Maret 2026.
Dalam sebuah unggahan video berdurasi 4 menit 49 detik yang viral di media WhatsApp, Komandan Operasi TPNPB-OPM Kodap 33 RuMana Tambrauw mengatakan, penyerangan itu terjadi setelah mereka melakukan pengintaian di wilayah operasi Selemkai hingga di Fef.
Mereka mengklaim kedua orang Nakes yang dibunuh dengan cara dipotong adalah oknum intel aparat keamanan Republik Indonesia.
"Jadi, aparat keamanan Republik Indonesia jangan bantah. Karena kami punya bukti berupa HT (Handy Talky) dan dua butir amunisi yang kami ambil,"ucap mereka dalam video tersebut.
(Editor : Yosep Bifel)
Apa reaksi kamu?